Kekerasan Terhadap Anak Sekolah Dasar Berujung Perdamaian

Teras Unit Kesehatan Sekolah Diduga Tempat Terjadinya Kekerasan Terhadap FNI

Belitung, suararakyatnusantara.com – Dunia Pendidikan Kembali Tercoreng Dengan Terjadinya Tindak Kekerasan Terhadap Anak-Anak Tepatnya Di Sekolah Dasar Negeri No 33 Beralamat Jalan Air Kelubi Desa Aik Raya Kecamatan Tanjung Pandan Kabupaten Belitung Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.
Kronologis Kejadian Pada Hari Jumat (12.08.2022) Telah Terjadi Pemukulan Terhadap Saudara FNI Siswa Kelas Lima Sekolah Dasar, Sekitar Pukul 16.00 Waktu Indonesia Bagian Barat Saat Kegiatan Ekstrakulikuler ,Yang Dilakukan Oleh Oknum Guru Olahraga Berinisial FR.(15.08.2022).
Kepala Sekolah Menyayangkan Disaat Kejadian Tersebut Ada Anak Anak Yang Membawa Handphone Dan Memvideokan Kejadian Tersebut,Sehingga Yang Tidak Pantas Tersebut Bisa Diketahui Oleh Pihak Pihak Lain Diluar Lingkungan Sekolah, Sudah Sering Kami Menyampaikan Agar Anak Anak Didik Tidak Membawa Handphone Ke Rumah Sekolah.
” Agar Kedepannya Guru Olahraga Sekolah Dasar Negeri Tiga Puluh Tiga (33) FR Lebih Sabar Menghadapi Anak Didik Jangan Mengedepankan Emosional Yang Berlebihan”Pesan Gusrina Sariwati,S.PdSD.
FR Membeberkan Kejadiannya Terjadi Secara Spontan Dan Saya Dalam Keadaan Panik “Sepengetahuan Saya Kemungkinan Kena Tangan FNI Waktu Saya Memukul Dikarenakan Ada Bunyi Celepek Kata FR.
“Hari Jumat Kejadian, Sabtu Pagi Kami Mediasi Dengan Pihak Keluarga Yang Diwakili Oleh Kedua Orangtua beserta Kakek FNI Sehingga Terjadilah Kesepakatan Damai Antara Saya Dengan Pihak Keluarga Yang Dituangkan Dalam Surat Perdamaian Dan Pernyataan Yang Kami Tanda Tangani Secara Bersama Sama”.

Surat perdamaian kedua belah pihak, tetapi bagaimana dengan perkembangan jiwa dan mental anak?


“Saya Meminta Maaf Kepada Keluarga Korban Dan semoga Kedepannya Tidak Ada Lagi Segala Macam Tuntutan Pinta FR.”
Kabid Sekolah Dasar Yuswardi Spd Mengatakan Kami Telah Memanggil FR Beserta Kepala Sekolah Kami Sampaikan Agar Kedepannya Kejadian Seperti Ini Kedepannya Agar Jangan Terulang Kembali,”Untuk Sangsi Kepada FR Itu Nanti Kepala Dinas Yang Akan Menyampaikan Apakah Yang Bersangkutan Akan Di Mutasi Atau Bagaimana.
Anak-anak Indonesia dilindungi oleh Undang-Undang Nomor 35 tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Undang-undang ini mengatur anak mendapatkan hak, perlindungan, dan keadilan atas apa yang menimpa mereka.

UU Perlindungan Anak ini juga mengatur tentang ancaman hukuman bagi siapapun yang melakukan kekerasan atau penganiayaan terhadap anak. Tak tanggung-tanggung, ancaman hukumannya lima tahun penjara dan denda Rp100 juta

Dikutip dari sebuah laman, Pasal 13 ayat 1 Undang-Undang Nomor 35 tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak berbunyi:

“Setiap anak selama dalam pengasuhan orang tua, wali, atau pihak lain mana pun yang bertanggung jawab atas pengasuhan, berhak mendapat perlindungan dari perlakuan:
a. Diskriminasi
b. Eksploitasi, baik ekonomi maupun seksual
c. Penelantaran
d. Kekejaman, kekerasan, dan penganiayaan
e. Ketidakadilan
f. Perlakuan salah lainnya.

Menurut yurisprudensi, yang dimaksud dengan penganiayaan, yaitu sengaja menyebabkan perasaan tidak enak (penderitaan), rasa sakit, atau luka. Contoh “rasa sakit” tersebut misalnya diakibatkan mencubit, menendang, memukul, menempeleng, dan sebagainya.

Pasal yang menjerat pelaku penganiayaan anak diatur khusus dalam Pasal 76C UU 35 tahun 2014 yang berbunyi:

“Setiap Orang dilarang menempatkan, membiarkan, melakukan, menyuruh melakukan, atau turut serta melakukan kekerasan terhadap anak.”

Sementara, sanksi pidana bagi orang atau pelaku kekerasan/peganiayaan yang melanggar pasal di atas ditentukan dalam Pasal 80 UU 35 tahun 2014:

(1) Setiap Orang yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 76C, dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun 6 (enam) bulan dan/atau denda paling banyak Rp72 juta.

(2) Dalam hal anak sebagaimana dimaksud pada ayat (1), luka berat, maka pelaku dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp100 juta.

(3) Dalam hal Anak sebagaimana dimaksud pada ayat (2) mati, maka pelaku dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas tahun). (ir)

Avatar

Author: suararakyatnusantara.com

PT BAHTERA LAGA NUSANTARA ( SK MENKUMHAM RI NOMOR : AHU-0031126.AH.01.01.TAHUN 2021 TANGGAL 05 MEI 2021)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.